<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1" ?>
<rss version="2.0" 
   xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule" 
   xmlns:html="http://www.w3.org/1999/html" 
   xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" 
   xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">
<channel>
   <title>NWH</title>
   <link>http://salman.or.id</link>
   <description>Ngeblok Weekend Hacker</description>
   <language>id</language>
   <copyright>Copyright 2009 Salman AS</copyright>
   <ttl>60</ttl>
   <pubDate>Sat, 10 Jul 2010 19:56 GMT</pubDate>
   <managingEditor>sas@salman.or.id</managingEditor>
   <generator>PyBlosxom http://pyblosxom.sourceforge.net/ 1.4.3 01/10/2008</generator>
<item>
   <title>Mercurial 101: Install dan Gunakan Saat Ini Juga</title>
   <guid isPermaLink="false">linux/mercurial-101</guid>
   <link>http://salman.or.id/linux/mercurial-101.html</link>
   <description><![CDATA[

<p>
Sedikit pengantar, mercurial adalah sistem manajemen source code untuk kolaborasi pekerjaan dan pelacakan perubahan. Utamanya digunakan oleh para pembuat program. Perangkat lunak ini dibuat berbasis bahasa pemrograman python dan sedikit C untuk alasan kecepatan.</p>

<p>Sudah terdapat beberapa sistem manajemen source code seperti ini, misalnya: <a href="http://www.nongnu.org/cvs">Concurrent Versions System (CVS)</a>, <a href="http://subversion.tigris.org">Subversion (SVN)</a>, <a href="http://bazaar.canonical.com/"">Bazaar (bzr)</a>, <a href="http://git-scm.com/">Git</a>, dan beberapa yang lain. Lihat di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Comparison_of_revision_control_software">Comparison of revision control software</a></p>

<p>Masing-masing Versioning System mempunyai kelebihan dan kekurangan. Jadi kenapa saya memilih mercurial, sederhana: saya belum terlalu dalam menggunakan CVS dan <a href="http://salman.or.id/linux/singkat-dengan-subversion.html">SVN</a> dan saat ini sedang fokus di bahasa pemrograman python. Jadi mercurial ada pilihan wajar saat ini. Selain itu namanya keren, "scientist" banget.</p>

<p class="readmore"><a href="http://salman.or.id/linux/mercurial-101.rss20">more &raquo;</a></p>
]]></description>
   <category domain="http://salman.or.id">/linux</category>
   <pubDate>Sat, 10 Jul 2010 19:56 GMT</pubDate>
</item>
<item>
   <title>Menolak Email pada Postfix/Zimbra</title>
   <guid isPermaLink="false">zimbra/menolak-email-pada-postfix</guid>
   <link>http://salman.or.id/zimbra/menolak-email-pada-postfix.html</link>
   <description><![CDATA[

<p>
Beberapa waktu terkini, saya mendapat keluhan dari user mail server yang saya pelihara. Email-email tidak jelas masuk ke inbox mereka. Setelah saya pelajari salinan email yang dimaksud, tampak jelas bahwa email tidak terkirim dari email server kami. Akan tetapi berasal dari email server di luar. Tujuan dan asal email memang ke arah domain klien saya tersebut. Jadi sekiranya email tersebut tidak sampai ke tujuan, pasti akan berbalik ke arah email server kami.
</p>

<p>
Solusi yang dijelaskan disini meski berbasis <em>Zimbra</em>, jelas bisa diterapkan pada sistem lain yang menggunakan <em>Postfix</em>. Karena kita tahu <em>Zimbra</em> menggunakan <em>Postfix</em> sebagai MTA (<i>Mail Transfer Agent</i>).
</p>

<p class="readmore"><a href="http://salman.or.id/zimbra/menolak-email-pada-postfix.rss20">more &raquo;</a></p>
]]></description>
   <category domain="http://salman.or.id">/zimbra</category>
   <pubDate>Fri, 18 Jun 2010 23:45 GMT</pubDate>
</item>
<item>
   <title>Memulai Postgresql</title>
   <guid isPermaLink="false">database/memulai-postgresql</guid>
   <link>http://salman.or.id/database/memulai-postgresql.html</link>
   <description><![CDATA[

<p>
Setelah terjadi hiruk pikuk alih tangan MySQL pada saat ingin fokus menggunakan MySQL, membuat saya berpikir untuk kembali fokus dengan database server PostgreSQL. Dengan pertimbangan masa depan yang menurut saya kurang bagus buat MySQL. Ini adalah kejadian yang ketiga setelah saya beralih dari distribusi GNU/Linux RedHat/Fedora ke Mandrake/Mandriva, dan kemudian ke Debian. Dengan alasan yang sama tentunya. Masa depan yang sepertinya gak terlalu bagus.
</p>

<p>
Beberapa tahun saya telah mengunakan dua database utama yaitu MySQL dan PostgreSQL. Namun tidak pernah membuat dokumentasi masing-masing. Sekarang saat yang tepat untuk segera membuat dokumentasi. Agar mudah mencari apa yang telah saya kerjakan, daripada mencari dalam lautan database mesin pencari di Internet. Selain itu agar bermanfaat pula bagi orang lain.
</p>

<p>
Fitur-fitur penting dijelaskan di website <a href="http://www.postgresql.org/about/">postgresql</a>. Tapi seingat saya, PosgreSQL mempunyai fitur yang jauh di atas MySQL di awal-awal tahun 2000-an. Untuk kondisi sekarang belum membandingkan, karena MySQL sudah sedemikian maju. Dan saya baru mulai menggunakan PosgreSQL lagi.
</p>

<p class="readmore"><a href="http://salman.or.id/database/memulai-postgresql.rss20">more &raquo;</a></p>
]]></description>
   <category domain="http://salman.or.id">/database</category>
   <pubDate>Mon, 14 Jun 2010 03:26 GMT</pubDate>
</item>
<item>
   <title>Mengaktifkan Web Server Lighttpd</title>
   <guid isPermaLink="false">linux/lighttpd</guid>
   <link>http://salman.or.id/linux/lighttpd.html</link>
   <description><![CDATA[

<p>
Deskripsi mengenai Lighttpd yang bisa didapat dari <a href="http://www.lighttpd.net/">website resminya</a> adalah:<br />
"
Security, speed, compliance, and flexibility -- all of these describe lighttpd (pron. lighty) which is rapidly redefining efficiency of a webserver; as it is designed and optimized for high performance environments. With a small memory footprint compared to other web-servers, effective management of the cpu-load, and advanced feature set (FastCGI, SCGI, Auth, Output-Compression, URL-Rewriting and many more) lighttpd is the perfect solution for every server that is suffering load problems. And best of all it's Open Source licensed under the revised BSD license. 
"
</p>

<p>
Catatan ini adalah rekaman yang sempat saya buat ketika membuat aplikasi berbasis web dengan menggunakan bahasa skripting python.
</p>

<p class="readmore"><a href="http://salman.or.id/linux/lighttpd.rss20">more &raquo;</a></p>
]]></description>
   <category domain="http://salman.or.id">/linux</category>
   <pubDate>Sun, 13 Jun 2010 07:24 GMT</pubDate>
</item>
<item>
   <title>Instalasi Debian dari USB</title>
   <guid isPermaLink="false">debian/instalasi-debian-dari-usb</guid>
   <link>http://salman.or.id/debian/instalasi-debian-dari-usb.html</link>
   <description><![CDATA[

<p>
Dokumentasi ini dibuat saat saya ingin menginstall distribusi kesayangan Debian GNU/Linux ke sebuah netbook murah, accer aspire one. Saya pikir sekarang sudah saatnya menghindari melakukan proses instalasi menggunakan keping CD/DVD, untuk mengurangi dampak bahaya lingkungan yang diakibatkan oleh sampah CD/DVD--sebuah statement sok tahu yang tidak didukung data yang benar.
</p>

<p>
Lagi pula menginstal sistem operasi menggunakan media harddisk atau USB flaskdisk lebih cepat dan mempunyai tingkat kesuksesan yang lebih bagus daripada menggunakan CD/DVD.
</p>

<p>
Asumsi untuk melakukan langkah-langkah ini adalah,
<ul>
<li>Kita bekerja menggunakan sistem operasi GNU/Linux yang sudah berjalan, dalam hal ini saya menggunakan distribusi Debian Lenny.</li>
<li>Sudah terinstall paket syslinux dan syslinux-common.</li>
<li>Sudah terinstall program fdisk dan rsync.</li>
<li>Menggunakan hak akses 'root'.</li>
<li>Direktori sumber adalah /tmp/source, dan direktori tujuan adalah /tmp/target.
</ul>
</p>

<p class="readmore"><a href="http://salman.or.id/debian/instalasi-debian-dari-usb.rss20">more &raquo;</a></p>
]]></description>
   <category domain="http://salman.or.id">/debian</category>
   <pubDate>Sat, 01 May 2010 18:15 GMT</pubDate>
</item>
</channel>
</rss>
