Apa Susahnya Senyum?
Kilas balik di tahun 1993, waktu pertama kali saya menginjakkan kaki di Jabedetabog. Dengan semangat yang menggebu ingin mengejar impian, dengan bekal isi otak penuh, isi hati penuh, dan isi kantong yang tiris.
Ada sebuah pengalaman bagi saya tidak akan pernah terlupakan! Kalau di Kota --saya sebut kota bukan kampung, karena memang sebuah kota-- asal saya, bahkan pada orang yang belum kita kenal pun kita bisa menyapa dan melempar senyum yang bisa dipastikan akan direspons. Bahkan oleh orang yang dipandang masyarakat sebagai penjahat sekalipun. Mungkin karena sudah mendarah daging, budaya ini juga terbawa kemana-mana. Termasuk ke Jabedetabog.






