Apa Susahnya Senyum?
Kilas balik di tahun 1993, waktu pertama kali saya menginjakkan kaki di Jabedetabog. Dengan semangat yang menggebu ingin mengejar impian, dengan bekal isi otak penuh, isi hati penuh, dan isi kantong yang tiris.
Ada sebuah pengalaman bagi saya tidak akan pernah terlupakan! Kalau di Kota --saya sebut kota bukan kampung, karena memang sebuah kota-- asal saya, bahkan pada orang yang belum kita kenal pun kita bisa menyapa dan melempar senyum yang bisa dipastikan akan direspons. Bahkan oleh orang yang dipandang masyarakat sebagai penjahat sekalipun. Mungkin karena sudah mendarah daging, budaya ini juga terbawa kemana-mana. Termasuk ke Jabedetabog.
Definisi Sukses Tukang Tambal Ban
Penggalan percakapan ini adalah percakapan antara saya dengan seorang tukang di pinggir jalan.
- Saya
- Pak tolong tambal ban motor saya, barusan kena paku besar.
- Tukang tambal ban
- Coba saya lihat Dek.
- Saya
- Sudah lama nambal ban Pak?
- Tukang tambal ban
- Kira-kira dua tahun Dek.
- Saya
- Lama juga ya Pak. Memang dulu belajar nambal ban dimana Pak?
- Tukang tambal ban
- Ooo itu. Dulu saya bekerja di bengkel di pertigaan jalan itu dek.
- Tukang tambal ban
- Cuma masuknya kadang-kadang, tidak setiap hari. Jadi tergantung panggilan dari pemilik bengkel saja.
- Saya
- Begitu ya Pak. Repot juga ya? Terus bagaimana ceritanya Bapak bisa buka bengkel tambal ban sendiri?
- Tukang tambal ban
-
Dulu saat masih bekerja di bengkel itu, saya belajar bagaimana cara menambal ban dari pemilik bengkel. Dari situ saya tahu bagaimana menambal ban dan dimana mendapatkan bahan-bahan untuk menambal ban.
Karena masuknya kadang-kadang saja dan penghasilan saya tergantung dari jumlah menambal ban, ya tidak cukup untuk hidup sehari-hari.
Setelah cukup trampil menambal ban, saya memutusakan untuk keluar dari bengkel tersebut.
Waktu mulai saya tidak punya apa-apa Dek. Karena gak ada modal untuk membeli piranti dan bahan menambal ban, maka saya mulai mengumpulkan kertas dan kardus bekas. Saya mendapatkannya dari tempat sampah orang dan kadang-kadang saya pungut dari pinggir jalan. Nah, setelah terkumpul saya jual ke pengumpul kertas bekas. Uangnya sebagian saya gunakan untuk makan dan sebagian saya belikan kunci-kunci pas yang seharga sepuluh ribu rupiah tiga buah. Saya juga membeli bahan tambal dari uang hasil menjual kertas bekas itu. Alat untuk menambal ini saya pesan sama tukang las disebelah, harganya tiga puluh ribu. Diangsur tiga kali. Sedang pompa tangan waktu itu saya pinjam dari tetangga.
Setelah itu saya membuka tambal ban di sini.
Setelah sukses, baru saya beli kunci-kunci pas yang lebih bagus dan bisa membeli pompa tangan sendiri. Alhamdulillah, sekarang saya bisa memberi makan keluarga saya sehari-hari dengan lancar.
- Saya
- Wah hebat juga Bapak ini. Pak, sudah matang tuch tambalan bannya.
(Tukang tambal ban membuka ban motor saya, kemudian memompa, dan memeriksa kebocoran pada ban dalam.)
(Setelah ketemu letak bocornya, kemudian si tukang tambal ban mengampelas ban dalam, memberi lem, menempel bahan tambalan, dan memanggang tambalan ban.)
(Si tukang tambal ban menunjuk pertigaan jalan, sekitar 100 meter di depan.)
(Tukang tambal ban membukan bungkus tambalan ban, memasukkan ban dalam, dan memompa ban motor Saya dengan pompa tangannya.)






